PLTS untuk CSR - Skema, Tata Cara, dan Tantangannya

PLTS untuk CSR - Skema, Tata Cara, dan Tantangannya

Perusahaan membangun CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai komitmen untuk berkontribusi di bidang sosial, meningkatkan kesejahteraan, dan menjaga lingkungan tempat bekerja. Dengan berdirinya CSR, perusahaan mampu menjaga hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat serta membangun citra positif.

Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain layanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pelatihan, dan kampanye pelestarian lingkungan. Semuanya dilakukan untuk memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Instalasi PLTS adalah salah satu bentuk kegiatan CSR untuk memberi dampak positif bagi masyarakat di bidang sumber energi. Memastikan ketersediaan energi terus terpenuhi tanpa ketergantungan dengan sumber jaringan utama.

Mengapa PLTS dapat menjadi bagian dari CSR?

Implementasi PLTS sebagai program CSR membantu menyediakan energi bersih, mengurangi emisi karbon, serta mendukung kebutuhan listrik bagi masyarakat.

Program instalasi PLTS dapat diturunkan menjadi berbagai kegiatan kecil seperti seminar edukasi energi terbarukan, pelatihan teknisi PLTS, wadah riset dan penelitian bagi akademisi, bantuan PLTS bagi UMKM, hingga showcase branding CSR ramah lingkungan.

Tidak hanya membawa aspek sosial, PLTS untuk CRS menunjukan perusahaan Anda punya komitmen menghasilkan energi terbarukan. Hal ini akan terlihat dari data terkait besarnya sumber energi yang dihasilkan dari instalasi PLTS dan besar efisiensi energi.

Dengan memiliki tata kelola yang baik akan mengundang peluang pendanaan dari investor karena menganut prinsip green financing, memberikan pinjaman bunga kompetitif kepada proyek ramah lingkungan. Perusahaan yang memiliki sistem PLTS akan lebih mudah untuk menyelesaikan persyaratan administrasi.

Penerapan PLTS sebagai CSR di Indonesia

Kebutuhan energi bersih berkorelasi dengan penggunaan PLTS untuk CSR. Berikut adalah penerapan PLTS sebagai CSR.

1. PLTS Atap Sekolah

PT Paiton Energy memasang PLTS Atap di tiga sekolah yaitu SMKN 54, SMKN 53, dan SMKN 70 Jakarta untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan sarana edukasi bagi siswa. Tidak hanya itu saja, PLTS Atap juga membantu menghasilkan efisiensi energi di sekolah sehingga menghemat biaya listrik.

Sebagai perbandingan, biaya listrik per bulan SMKN 54 sebelum ada PLTS Atap adalah Rp. 15-20 juta. Namun setelah pemasangan PLTS Atau, SMKN 54 dapat menghemat biaya listrik sampai Rp 2 - 3 Juta per bulan.

2. PLTS rumah sakit

RS PHC Surabaya, rumah sakit yang tergabung dalam Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah melakukan instalasi PLTS dengan kapasitas 147 kWp di tahun 2023. Instalasi in menghasilkan energi listrik 186.000 kWh yang setara dengan 4-5% kebutuhan listrik untuk operasional rumah sakit.

Skema program CSR dengan PLTS

CSR untuk PLTS melibatkan kerjasama antara yayasan, mitra, dan penerima manfaat. Untuk menjalankan CSR PLTS membutuhkan alur untuk menjalankan skema program tersebut.

1. Melakukan studi kelayakan

Pihak yayasan akan menentukan lokasi instalasi PLTS berdasarkan kebutuhan yang diinginkan seperti menekan biaya listrik ataupun membangun ekosistem ramah lingkungan.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, tim teknik akan survei lokasi untuk melihat sistem kelistrikan dan konstruksi sipil. Kemudian menghitung potensi radiasi matahari harian, analisis profil beban listrik, dan memeriksa kekuatan struktur.

2. Membuat desain PLTS

Setelah tim teknisi melakukan survei, jasa instalasi PLTS akan membuat desain PLTS sesuai dari laporan lapangan. Desain tersebut nantinya menghasilkan dua jenis PLTS yaitu On-Grid dan Off-Grid.

Apabila pihak yayasan sudah menyetujui desainnya, langkah berikutnya adalah tahap instalasi. Proses instalasi meliputi pemasangan penyangga, instalasi modul surya, penempatan inverter, instalasi kabel ke inverter, dan pemasangan sistem grounding untuk keamanan.

3. Pengujian

Proses instalasi PLTS harus melalui tahapan pengujian untuk memastikan tegangan listrik yang dihasilkan tetap stabil dan aman. Terutama untuk penggunaan masyarakat di lokasi tersebut. Setelah PLTS lolos tahap uji, barulah aset PLTS resmi dihibahkan ke penerima manfaat.

4. Pelatihan teknisi

Program PLTS untuk CSR harus terus berjalan, kuncinya adalah pada pelatihan teknis dasar PLTS. Bentuk latihannya meliputi cara membaca meteran energi, mengatur jadwal membersihkan panel surya, dan prosedur troubleshooting ringan. Jauh lebih baik apabila semua pelatihan dikemas dalam bentuk buku pedoman.

5. Pemantauan secara berkala

Sistem PLTS yang menggunakan smart inverter dapat tersambung ke internet. Yayasan dapat memantau performa PLTS secara realtime Tujuannya agar dapat melihat hasil bukti nyata perusahaan tersebut komitmen dalam energi terbarukan melalui total produksi kWh, hasil efisiensi energi, dan jumlah emisi karbon yang berhasil ditekan.

Dampak jangka panjang program CSR dengan PLTS

Program CRS PLTS bisa menjadi investasi infrastruktur yang membuat suatu daerah memiliki ekosistem energi terbarukan.

1. Kemandirian Energi dan Ekonomi Sirkular Desa

Daerah terpelosok yang sebelumnya bergantung pada genset diesel harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli bahan bakar cair yang harganya fluktuatif. Dengan PLTS, biaya operasional energi ini terpangkas drastis.

Dana desa atau kas perusahaan yang tadinya habis dibakar menjadi asap genset, kini bisa dialihkan untuk program produktif lain, seperti perbaikan jalan wisata, modal UMKM warga, atau fasilitas pendidikan. Ini menciptakan perputaran ekonomi yang jauh lebih sehat.

2. Resiliensi Infrastruktur Terdesentralisasi

Membangun PLTS off-grid di berbagai titik fasilitas umum sama dengan membangun microgrid mandiri. Keuntungannya, kawasan tersebut memiliki ketahanan tinggi.

Jika terjadi gangguan jaringan listrik PLN berskala besar akibat cuaca ekstrem atau bencana alam, infrastruktur vital seperti puskesmas desa, pompa air bersih, dan menara telekomunikasi lokal tetap bisa beroperasi normal.

3. Dekarbonisasi yang Terukur Jangka Panjang

Umur pakai modul surya mencapai 20 hingga 25 tahun. Artinya, selama lebih dari dua dekade, kawasan tersebut berkontribusi secara pasif dalam menekan emisi karbon. Penurunan emisi ini bukan sekadar klaim, melainkan data empiris yang bisa diukur melalui sistem monitoring pada inverter. Bagi kawasan ekowisata, jejak karbon yang rendah ini menjadi daya jual (unique selling proposition) yang sangat kuat untuk menarik turis mancanegara yang sadar lingkungan.

4. Peningkatan Kapasitas SDM

Dampak sosial yang sering luput dari perhatian adalah transfer pengetahuan teknologi. Warga yang dilibatkan dalam operasional dan pemeliharaan dasar secara perlahan akan menguasai keahlian baru. Dari program ini, sangat mungkin muncul teknisi instalasi listrik atau ahli perawatan panel surya. Kapasitas SDM lokal otomatis naik kelas.

5. Skor ESG yang Solid bagi Perusahaan Donatur

Bagi perusahaan yang menyalurkan CSR, ini adalah bentuk investasi reputasi. Laporan keberlanjutan mereka akan memiliki fondasi metrik Environmental, Social, and Governance (ESG) yang sangat kuat. Mereka memiliki portofolio nyata berupa aset energi hijau yang terus berproduksi selama puluhan tahun, bukan sekadar program sosial sekali habis.

Tantangan memakai PLTS untuk CSR

Program CSR PLTS tidak semudah dari yang dibayangkan. Setelah selesai instalasi, masalah pemeliharaan dan perawatan menjadi kendala. Hal ini membuat PLTS mangkrak setelah 3 tahun penggunaan.

Berikut adalah tantangan PLTS untuk CRS

1. Memakai komponen lebih murah

Modul panel surya didesain untuk 25 tahun masa pakai. Hal ini hanya terwujud apabila memiliki jadwal pemeliharaan rutin dan menggunakan komponen pendukung yang berkualitas. Baterai menjadi salah satu komponen yang menjadi korban.

Banyak program PLTS CRS memakai baterai jenis VRLA karena lebih mudah dibandingkan baterai Lithium-Ion. Hanya saja baterai VRLA memiliki ketahanan sampai 3-5 tahun, setelah itu akan mengalami penurunan performa. Serta diperparah dengan siklus pengisian dan pengosongan tidak terkendali dengan baik.

2. Beban listrik tidak terkendali karena melebihi kapasitas

Sistem PLTS dirancang sesuai dengan kapasitas beban yang ketat sesuai dengan penggunaannya. Apabila digunakan secara berlebihan, baterai mengalami lonjakan daya berlebih.

PLTS CSR memang digunakan gratis untuk masyarakat. Tetapi ada kalanya masyarakat mencari gratisan dengan mengisi daya seperti mesin pendingin atau pompa air. Jika dilakukan secara berlebihan, inverter mengalami overload dan berisiko jebol.

3. Kesenjangan pengetahuan

Yayasan hanya memberikan pelatihan singkat setelah serah terima. Ketika ada masalah teknik, teknisi lokal tidak berani menyentuh sama sekali. Kemudian, teknisi ahli berada di kota besar, yang mana kalau harus mendatangkan akan menghabiskan biaya transportasi. Sehingga langkah logis yang diambil adalah membiarkan komponen rusak sampai tidak bisa digunakan lagi.

4. Pendanaan berhenti

CSR beroperasi karena memiliki pendanaan dari perusahaan utama atau iuran bulanan dari masyarakat. Uang yang terkumpul digunakan untuk biaya perawatan dan penggantian komponen PLTS. Tetapi apabila pendanaan berhenti karena masyarakat memiliki masalah keuangan sampai perusahaan menghentikan pendanaan, maka PLTS tidak akan beroperasi.

Batari Energy Melayani Pemasangan PLTS untuk Tujuan CSR

Apakah perusahaan Anda sedang ingin melakukan CSR lewat pemasangan PLTS? Jika iya, Batari Energy bisa membantu dalam hal ini dan ada portfolio di komersial.

Batari Energy adalah jasa pemasangan PLTS yang sudah memiliki banyak proyek/portfolio di berbagai daerah. Anda ingin memasang PLTS sebagai bagian dari CSR? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Bagikan Artikel